Thursday, March 7, 2019

Mitos di Balik Keindahan Gunung Butak


Paraf Informasi - Sudah pernah mendaki Gunung Butak? Jika belum, maka Anda harus mencoba mulai dari sekarang. Terlepas dari segala mitos yang ada, gunung ini perlu menjadi tujuan Anda selanjutnya untuk menikmati alam. Sebelum itu, mari pelajari lebih dalam perihal tempat tersebut.

Gunung Butak adalah gunung stratovolcano yang terletak di Jawa Timur dan berdekatan dengan Gunung Kawi. Keseluruhan area memiliki konfigurasi lahan bervariasi, antara lain sedikit datar dan luas, kebanyakkan jalur pendakiannya terjal, serta melewati kebun teh.

Tipe iklim Gunung Butak adalah C dan D, dengan suhu kurang lebih 0˚C - 10˚C pada malam hari. Sedangkan pada pagi hari hingga siang hari, suhu berkisar antara maximum 15˚C. Secara keseluruhan, Gunung Butak merupakan hutan hujan tropis dan hutan lumut.

Meski eksotis, namun popularitas Gunung Butak dianggap buruk karena nuansa horor akibat jatuhnya Heli Basarnas dahulu kala. Ditambah lagi, cerita mistis yang membekas sejak dahulu malah membuat pendaki jadi ketakutan. Simak ceritanya di sini.

Tentang Mitos Gunung Butak yang Melegenda
Pada sisi timur Gunung Butak, terdapat suatu lokasi tanah yang tidak ditumbuhi rumput. Konon, tempat tersebut bekas ditancapi keris pusaka Eyang Jatikusumo sebagai orang sakti setempat. Keris itu bernama Kyai Ampal Bumi.

Berdasarkan penuturan warga, dahulu pernah ada seekor ular raksasa yang mengganggu ketentaraman kampung sekitar. Tak ada satupun orang yang mampu mengusir binatang tersebut, kecuali Eyang Jatikusumo. Ia lantas menaklukkan ular itu dan menjadikannya penjaga makam.

Selain ular, terdapat mitos seputar makhluk siluman Putri Celeng dan siluman Rambut Geni. Putri Celeng ini biasanya ditemui dalam wujud badan seorang putri cantik namun kepalanya berwujud celeng, kadang juga badannya celeng kepalanya seorang putri.


Sedangkan, Siluman Rambut Geni hanya berbadan separuh, dari perut ke atas saja, rambutnya menyala seperti api. Kedua makhluk ini disebut berada sekitar area telaga Jambangan, dan menjaga wilayah tersebut.

Kepercayaan sekitar menyebut bahwa para pendaki haru berhati-hati saat berkunjung ke Gunung Butak. Hindari kegiatan bersifat merusak alam hingga berbuat yang tidak-tidak.

Oleh karena itu berhati-hatilah jika kita berkunjung kesana, jangan sampai membuat kerusakan alam dan berbuat yang tidak-tidak. Namun, apakah hal ini benar? Selama Anda melakukan perjalanan dan tak menemukan apa-apa, maka semua berjalan lancar.

Menikmati Keindahan Gunung Butak yang Sesungguhnya
Bagaimanapun, mitos-mitos tersebut harus dihadapi secara bijak. Pasalnya, ketika Anda percaya dengan hal itu, maka Anda telah melewatkan kesempatan untuk mencapai puncak Gunung Butak lewat pemandangan bagaikan negeri di atas awan.

Sunrise-nya keren gaes!

Jalur menuju Gunung Butak memang dikenal sulit. Meski begitu, rasa lelah yang ada bakal terbayar puas setelah tiba di atas. Pemandangan alam yang indah akan muncul di hadapanmu dengan tampak jelas, berdiri gagah dan dipenuhi awan putih nan mengagumkan.

Inilah negeri di atas awan gaes!
 
Saat pagi hari tiba, puncak Gunung Butak adalah spot terbaik untuk menikmati matahari terbit. Adanya samudera juga ampuh dalam menambah pesona ketika matahari terbit. Cocok sebagai objek foto sambil berkumpul bersama teman-teman sesama pendaki.
Tertarik berwisata alam ke Gunung Butak? Pelajari rutenya sebagai berikut:
  • Jalur desa Semen – Gandusari – Blitar ( via Sirah-Kencong)
  • Jalur desa Wonosari, Kepanjen-Malang
  • Jaluar Desa Maduarjo, jalur penduduk mencari kayu yang tidak ada pos perizinan
  • Jalur Desa Gadingkulon-Dau-Malang,
  • Bukit Panderman Batu-Malang

Beberapa jalur lainnya seperti Sirah – Kencong, dapat Anda gunakan sekarang. Jangan ragu untuk menikmati pemandangan puncak Gunung Butak tanpa perlu terhasut mitos-mitos yang ada. Selamat mencoba!

 Bersama kawan seperjuangan!


EmoticonEmoticon