Thursday, June 21, 2018

RAPP Riau Memadukan Upaya Konservasi Gajah Dengan Pencegahan Kebakaran


Di Provinsi Riau, konflik antara gajah dan manusia telah lama terjadi. Kehadiran gajah di tengah-tengah masyarakat masih menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Salah satu faktor penyebabnya, yaitu: semakin menyempitnya areal hutan sebagai rumah gajah. Kawanan gajah sering masuk ke pemukiman warga dan lahan perkebunan.

Berbagai macam cara dilakukan masyarakat untuk mengusir kawanan gajah dari pemukiman dan perkebunan milik masyarakat. Akibatnya, keduanya mengalami dampak kerugian. Kawanan gajah yang mati akibat pemburuan yang dilakukan masyarakat, dan di sisi lain masyarakat menderita kerugian karena lahan perkebunan habis dirusak oleh kawanan gajah.

Penurunan populasi Gajah Sumatra dalam 20 terakhir mengalami penurunan. Penyebabnya adalah laju deforestrasi dan degradasi hutan di wilayah Riau yang terjadi karena penggunaan lahan yang tidak bertanggung jawab. Terdapat ancaman atas keberadaan gajah yaitu penggunaan racun oleh oknum masyarakat untuk membunuh gajah liar yang memakan buah-buahan dan daun kelapa sawit. 

Komitmen perusahaan dalam upaya konservasi gajah Sumatra, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) mengadakan pelatihan konservasi dan mitigasi konflik gajah dengan manusia. RAPP aktif dalam berbagai upaya perlindungan alam. Salah satunya ialah langkah pencegahan kebakaran. Dalam pencegahan kebakaran, RAPP menjalankan upaya menggabungkan dengan langkah perlindungan terhadap gajah.

Upaya antisipasi konflik antara gajah dan manusia, maka RAPP bersama dengan WWF dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menggulirkan upaya yang disebut sebagai Elephant Flying Squad (EFS) . Tim EFS dua kali dalam seminggu, berpatroli ke sejumlah are rawan dilintasi para gajah liar. RAPP juga memanfaatkan kegiatan patroli rutin Elephant Flying Squad untuk melakukan perlindungan lahan dan hutan dari bahaya kebakaran.

Patroli dilakukan pada siang hari. Sebelum melakukan patroli, tim membawa perlengkapan lengkap mempersiap diri dengan baik. Ketika menemukan tanda-tanda keberadaan gajah liar, tim harus mencatat ke tabel yang tersedia dan bisa melakukan penanganan. Gajah-gajah yang telah dilatih dibiarkan hidup di hutan dan tidak dikandangkan. 

Gajah betina yang sedang hamil tidak diperbolehkan ikut dalam penggiringan gajah liar. Demikian pula pada gajah jantan yang sedang dalam fase musth/birahi tidak diperkenankan ikut patroli. Yang membedakan gajah Flying Squad dengan gajah liar, mereka memiliki jadwal latihan fisik serta jadwal patroli dua kali seminggu pada pagi hari selama dua jam setiap patroli.

Elephant Flying Squad mampu berpartisipasi aktif dalam mengamankan hutan dan lahan. Patroli yang ada di area konsesi RAPP mampu menekan tingkat kebakaran. RAPP berhasil melakukan dua upaya manfaat besar dalam satu kegiatan saja. Dalam melakukan perlindungan gajah, mereka juga bisa ikut mengamankan lahan hutan dari bahaya kebakaran.

Kebakaran hutan dan lahan sangat merugikan kelestarian hutan di Indonesia. Saat tahun 2005 di sejumlah area di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi terjadi kebakaran hutan. Kerusakan yang ditimbulkan sangat parah dan menimbulkan kerugian yang luar biasa besar. Beragam upaya perlindungan dilakukan, diantaranya ialah patroli rutin yang dilakukan RAPP dengan Elephant Flying Squad yang dimilikinya. Dan itulah cara RAPP Riau memadukan upaya konservasi gajah dengan pencegahan kebakaran.

2 komentar

Info yang sangat bermanfaat, gajah adalah hewan yg harus kita lindungi.


EmoticonEmoticon