Monday, February 26, 2018

Lampu hias dari barang bekas, kreatif banget!


Paraf Informasi - Kreativitas emang gak ada batasnya. Kalau kamu ngeliat tumpukan karung goni di pasar, pasti gak akan kepikiran buat membelinya. Buat apa? Kan itu sampah?

Dia yang hidup dari barang tak terpakai dan sering terbuang
Tapi ternyata, Andreas Bimo Wijoseno, atau biasa dipanggil Wijo, punya pikiran lain. Waktu lagi jalan-jalan di pasar dan ngeliat karung goni berserakan, dia langsung beli. Awalnya sih dia asal beli aja karena harganya murah.

Nah, suatu ketika temannya punya tas dari goni yang rusak. Ternyata, Wijo bisa benerin itu. Dari situ, dia kepikiran buat ngolah goni yg ia punya menjadi tas. hasilnya, produk buatannya terjual 50 pcs di marketplace online. Nah, setelah itu dia juga mulai bikin item lain kaya topi dan pouch goni.

Keterampilan yang dia punya ini didapatkan secara otodidak. Dia bahkan gak pake meteran buat ngukur pola, cukup pakai jari aja. Kebiasaan Wijo yang suka menonton penjahit bekerja juga bermanfaat banget untuk menambah keterampilannya.

Hambatan bagi pengrajin produk lokal (saat proses produksi)
Hambatan Wijo saat memproduksi barang salah satunya rasa malas. Soalnya, pengerjaannya cukup berat, mulai dari mencuci sampai finishing. Proses menjahit juga susah, soalnya berat. Kadang-kadang juga suka nyangkut di mesin jahit.

Pada proses produksi, Wijo  bekerja berdua dengan sang istri. Istrinya memasang kancing dan aksesoris, sementara ia menjahit. Kalau cuci-mencuci dikerjakan berdua.

Produk bikinan Wijo sendiri punya ciri khas, yaitu murni goni. Tidak ada lapisan dalam atau sampai di cat. Alasannya, Wijo gak mau buat sampah baru. Tujuan dia kan manfaatin sampah, kok malah bikin sampah lain?

Wijo sendiri kepengen banget kalau orang-orang ikut melakukan kegiatan sepertinya. Ia ingin semua orang mau mengkreasikan goni jadi barang yang bermanfaat, misalnya jadi lampu hias.

Potensi ekonomi produk lokal itu sangat luar biasa besar
Beberapa orang masih ragu buat beli lampu hias lokal dan milih barang impor. Padahal, kerajinan lokal punya potensi yang besar banget loh!

Buktinya, industri kerajinan tangan adalah subsektor industri kreatif dengan kontribusi terbesar dalam nilai ekspor. Ia menyumbang 18,26 persen ekspor sector ekonomi kreatif, dan 1,04 persen terhadap total ekspor nasional.

Permintaan ekspor produk kerajinan lokal juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2010 nilainya mencapai 15,5 triliun. Kemudian naik menjadi 21,7 persen pada tahun 2013. Ini menandakan minat masyarakat intenasional terhadap kerajinan lokal tinggi.

Gak cuma mancanegara aja, ternyata kerajinan lokal cukup diminati di dalam negeri juga kok. Pada tahun 2010, konsumsi kerajinan tangan lokal mencapai 110,4 triliun. Pada tahun 2013 naik menjadi 145,2 triliun. Angka ini mengalahkan konsumsi rumah tangga dalam subsektor industri kreatif.

Ragam produk lampu hias dari perajin lokal Indonesia
Selain data tersebut, minat warga lokal terhadap kerajinan bisa diliat dari pameran yang ada. Inacraft, pameran kerajinan tangan terbesar di Indonesia, berhasil mendapatkan 166.635 pengunjung pada tahun 2015. Total penjualan didapat senilai 121,6 miliar.

Produk kerajinan lokal memang unik dan menarik. Itu adalah buah dari kreativitas para pengrajin. Misalnya saja, ada produk lampu hias dibuat dari anyaman lidi daun tebu dan amput kayu.

Lampu hias berbentuk balok panjang yang disusun dari anyaman lidi daun tebu. Di bagian tengahnya ada amput kayu yg diukir menjadi lukisan bunga. Lampu hias ini memunculkan kesan etnis yang tinggi. Perawatannya cukup ditaro di tempat kering dan terkena sinar matahari supaya gak gampang jamuran.

Karena dibuat dengan tangan, lampu ini diproduksi secara terbatas. Harganya juga terjangkau, hanya 100 ribu rupiah. Selain itu, ada juga pengrajin lampu hias yang sama kreatifnya. Ia membuat lampu hias yg dikombinasikan dengan aroma terapi listrik. Produk ini cocok untuk menghilangkan stress dan kepenatan, alias relaksasi.

Cangkangnya sendiri terbuat dari batu alam dan mangkuk kaca. Nah, kalau kamu beli ini, di dalamnya sudah termasuk lampu hias dan minyak aroma terapi 4.5 ml. Kamu cuma perlu mengeluarkan 121 ribu rupiah.

Tantangan pasti ada, salah satunya dari produk tiruan
Sebagus apapun produk, pasti bakal selalu ada tantangan dalam bisnis. Saat ini, pengrajin lokal lagi ketar-ketir gara-gara banyak barang Cina menginvasi pasar. Pedagang Tanah Abang misalnya, iya mengaku lebih pilih barang Cina karena harganya murah. Kualitasnya juga bersaing. Makanya, sekarang sekitar 80% barang Cina mendominasi Tanah Abang.

Hal ini sebagi imbas dari perjanjian China ASEAN Free Trade Area (CAFTA) alias perdagangan bebas. Gara-gara itu, sekarang barang Cina gampang banget masuk ke dalam negeri.

Pemerintah juga sudah berupaya mengendalikan keadaan ini. Mereka mengadakan pelatihan kerajinan di daerah-daerah. Akses permodalan pengrajin pun mulai dibuka. Selain itu, standar nasional indonesa (SNI) juga mulai diterapkan supaya barang lokal di pasar kualitasnya bagus.

Bukan saja pemerintah doang yang berusaha, ternyata ada pihak swasta ikut mengembangkan pengrajin lokal loh. Misalnya aja Qlapa. Situs ini jadi penghubung antara pengrajin dan pembeli lewat internet. Hal ini jadi solusi buat daerah-daerah pengrajin yang jauh dari pasar. 


EmoticonEmoticon