Rabu, 02 Agustus 2017

Fenomena Masuk Sekolah Lewat Email? Sudah Biasa!

Paraf Informasi - Di zaman yang serba teknologi saat ini, mendapatkan informasi yang Anda inginkan semudah menyalakan televisi. Ada banyak berita yang setiap detiknya berganti dan memenuhi ruang maya. Setiap website mempunyai ciri khas seperti website khusus media lifestyle terlengkap, berita dari seluruh dunia, peristiwa terunik, dan lain-lain. 

Tidak hanya halaman penyedia informasi, dunia pendidikan juga tidak mau kalah bersaing. Jika dulu cukup melalui jalur konvensional, sekarang segalanya serba online. Di luar negeri, bagi Anda yang ingin melanjutkan pendidikan ke tahap perguruan tinggi, Anda akan diminta mengisi formulir yang sudah ada di website dan mengirimkan berkas pendaftaran melalui email. Setelah itu, Anda akan mendapatkan balasan juga melalui email. Semudah itu.

Diperkirakan, dalam 20 tahun ke depan teknologi akan mengambil alih pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh manusia. Meskipun saat ini sudah mulai terasa fenomenanya. 

“Teknologi akan jadi bagian penting dalam setiap kegiatan evaluasi dan bimbingan mahasiswa. Anda bisa meminta bantuan kepada Siri atau Alexa dan mereka akan memberikan solusi,” Kata Steve Farmer, perwakilan dari Departemen Pendaftaran dan Penerimaan Sarjana Universitas North Carolina. 


Kecerdasan artifisial mendukung simulasi interaksi manusia dan mahasiswa dapat mendapatkan jawabannya secara cepat. Sehingga tidak menutup kemungkinan kecerdasan tersebut akan memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan mengenai nasib calon mahasiswa. Ia berharap kemampuan tersebut tidak dibuat tapi sebaliknya, diarahkan ke tugas yang lain yang manusia tidak bisa lakukan secara akurat seperti membuat jadwal mata pelajaran yang tepat untuk SMA, memindai lembar jawaban, dan menilai kemampuan sekolah tersebut secara keseluruhan.

Berbeda dengan pandangan Farmer, di Andover, Massachusettes, para siswa justru didorong untuk memanfaatkan teknologi dalam sekolahnya. Sebuah pilot project bernama New Resume Project dibuat untuk menggantikan resume konvensional yang selalu ditulis di atas kertas. Para siswa bebas membuat resume sesuka hati mereka dalam bentuk digital dengan format apa saja. Dengan begitu, para siswa lebih bebas mengekspresikan diri mereka dan calon universitas bisa mengenal mereka lebih dalam. 

Beberapa universitas seperti Yale, Universitas Chicago, dan Pomona College juga mulai memperbolehkan calon mahasiswanya mengirimkan lamaran pendaftaran dalam bentuk video selain syarat yang sudah ada. Jadi, calon tersebut bisa mempresentasikan dirinya dalam beberapa cara dan bisa jadi pertimbangan dibandingkan mereka yang hanya mengirimkan formulir saja. Menurut beberapa ahli, sekolah-sekolah yang aktif mendorong siswanya terlibat dalam situasi komunikasi akan dianggap kompetitif dan berguna untuk ke depannya.

Fenomena ini bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda. “Semua pekerjaan administratif yang dikejakan oleh teknologi membuat segalanya jauh lebih mudah,” kata Sasha Peterson, CEO TargetX, sebuah perusahaan perangkat lunak yang fokus dalam menciptakan software untuk membantu para siswa. “Tapi di sisi lain, kemudahan tersebut membuat masyarakat menjadi konsumtif atau dalam artiannya ‘menunggu bola’. Mereka cenderung mengharapkan segala sesuatunya bisa cepat dan instan. Padahal, universitas menginginkan Anda untuk datang langsung,” lanjutnya.  

Peterson beranggapan kalau teknologi yang fokus kepada konsumen bisa menciptakan inovasi yang lebih tinggi juga. Misalnya saja, ada sistem yang mampu mempersempit pilihan sekolah yang cocok hanya dari kebiasaan browsing Anda. Tidak hanya itu, seandainya ada aplikasi yang bisa membagikan nilai Anda ke universitas, maka sekolah bisa tahu seberapa besar kesempatan Anda bisa masuk di beberapa universitas sekaligus. Tentu ini sebuah efisiensi karena bisa membuat Anda sedikit lebih lega dan tidak tersiksa perasaan apakah pendaftaran Anda diterima atau tidak. Selain itu, sekolah juga bisa lebih bisa fokus pada perbaikan sistem agar siswanya bisa diterima di universitas mana pun.

Yang membuat khawatir adalah tidak semua siswa bisa mengikuti perkembangan teknologi ini. Bagi siswa dari keluarga yang berpendapatan rendah atau generasi pertama kemungkinan besasr akan tertinggal dari keluarga yang lebih mampu dan melek teknologi. Tapi, Jim Nondorf, Dekan Penerimaan dan Bantuan Keuangan Universitas Chicago sudah punya solusinya. Dari hasil riset yang ia lakukan, kekhawatiran tersebut dapat diatasi dengan penggunaan handphone. Menurut survey, keluarga dengan low income lebih mungkin punya handphone ketimbang komputer. Jadi, para siswa bisa mengajukan pendaftaran hanya dari ponsel mereka.

Sumber: http://www.nbcnews.com/feature/college-game-plan/machines-evaluating-applicants-applying-college-could-change-lot-20-years-n786416


EmoticonEmoticon